Kamis, 03 Mei 2018

NOEL : Delusi Baru

Noel Witson Alexander, Namanya gabungan dari nama belakang kedua orangtuanya; Witson dari Ibunya, Alexander dari Ayahnya. Namun, Noel lebih suka jika namanya hanya Noel Witson saja karena ia tidak menyukai fakta bahwa dia anak dari seseorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Ayahnya yang semena-mena meninggalkan seorang Istri yang sangat mencintai nya.

Kebencian Noel pada Ayah nya bermula ketika menyadari suami Ibunya itu tidak kunjung pulang, yang akhir membuat Ibunya menangis sendirian didalam kamar dirumah mereka yang dulu. Saat itu dia berharap Ayahnya pulang agar Ibunya berhenti menangis, namun ketika Ibunya mengatakan mereka akan pindah, dia pun tau walaupun Ibunya juga berharap Ayahnya kembali tapi faktanya Ayah mereka memang sudah tak akan kembali, kepindahan mereka adalah salah satu cara untuk Ibunya melupakan segala hal tentang Ayahnya.

Namun, tetap saja itu hanya sebuah harap, asa yang tak pernah sampai selama seorang anak yang sangat mirip dengan wajah orang yang mencampakkannya hidup berdampingan dengan nya.

Pada akhirnya melupakan Ayahnya hanya menjadi sebuah khayalan yang tak akan terwujud.

Noel selalu berharap, agar Ibunya mampu membuangnya ke suatu tempat jauh darinya. Agar setidaknya walaupun sedetik, Ibunya bisa melupakan sosok Ayahnya. Walaupun sedetik ia ingin Ibunya terbebas dari sakitnya luka ditinggalkan dan beratnya rindu. Ia ingin Ibunya berhenti menangis disudut gelap kamar nya. Tapi itu takkan bisa dilakukan Ibu nya karena dia mempunyai 'rasa kasih seorang Ibu'.

Noel frustasi dengan keadaan seperti ini. Seandainya dia punya cara untuk menghilang tanpa harus membuat Ibunya cemas dan pergi mencarinya. Sebuah pelarian yang di setujui Ibunya.

Dan saat kondisi psikis Ia memburuk...

Akhirnya harapan itu terkabul.

Noel akhirnya pergi ketempat dimana Ibunya tidak bisa melihat nya dengan rasa ikhlas...

Noel menatap plang rumah sakit yang berada didepannya. Tertulis pada bagian depan rumah sakit jiwa yang bangunannya terkesan tentram itu, "RUKAYYA HOSPITAL" . Noel merasa asing dengan nama itu, setahunya di Inggris tidak ada yang menggunakan kata seperti itu. Dan itu terdengar tidak awam untuk nama seorang.

Dokter Rebecca yang sudah selesai mengurus mobilnya menyuruh Noel masuk. Ia pun berhenti memikirkan tentang tulisan plang rumah sakit dan mengikuti Dokter Rebecca masuk kedalam gedung rumah sakit.



🚶🚶🚶🚶🚶🚶


Noel baru saja selesai mengirimkan surat untuk Ibunya. Tidak terasa dia sudah satu Minggu mengenakan pakaian rumah sakit ini.

Langit pagi yang menjelang siang tampak tidak terlalu terang, anginnya pun masih sejuk membuat Noel memutuskan keluar dari rumah sakit dan duduk disalah satu kursi panjang yang terletak diujung gedung rumah sakit dekat gerbang. Disana daun-daun kering yang berguguran dari pohon-pohon besar tua yang menghiasi pekarangan rumah sakit belum dirapikan petugas memanjakan pandangan mata Noel. Dia sangat suka suasana seperti ini. Dia pun mendongakkan kepalanya agar angin lembut yang meniup daun-daun kering ikut membelai poni rambutnya yang menggangu matanya.

Beberapa hari tinggal dirumah sakit ini, membuat nya tidak khawatir lagi dengan masalah delusi. Dia tidak perduli sedang melihat yang nyata atau tidak, yang jelas disini tidak ada Ibunya yang akan sedih melihat dirinya tidak berkembang atau semakin parah.

Dia hanya berharap Ibunya benar-benar menuruti keinginannya untuk tidak kesini dengan begitu ia akan dengan mudah memvonis sosok Ibunya yang ia lihat disini adalah sebuah delusi.

Noel membuka buku yang tadi dibawanya. Saat menekuni isi buku itu, tiba-tiba dia mendengar suara deru mobil memasuki halaman rumah sakit. Dia pun menengok kearah suara itu. Dan benar saja, dia melihat sebuah mobil pick up berwarna biru gelap.

Ketika mobil itu berhenti dan bunyi derunya mati, seorang gadis dengan kepala bertudung keluar dari bagian depan mobil.

Merasa keadaan sudah tidak nyaman karena kehadiran mobil dan gadis yang baru datang itu, Noel menutup bukunya dan berdiri dari kursi. Saat dia ingin mulai berjalan, dia tak sengaja menengok kearah mobil itu kembali, dan kemudian dia bertatap muka dengan gadis yang tadi dilihat nya keluar dari mobil.

Untuk sesaat dia membeku berikut juga gadis itu. Sebenarnya dia tidak pernah bertatap muka dengan seseorang, dengan Ibunya saja dia masih merasa canggung. Dia pun menjadi kikuk, ia merasa seperti tertangkap basah dan tak harus melakukan apa. Merasa kepalanya mulai sakit, Noel membalikkan badannya dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Gadis yang diseberang sana terperangah melihat nya. Dipikir nya setidaknya anak laki-laki yang seperti sebaya dengannya itu akan say hai! padanya walaupun tidak ingin membantu membawakan kotak berat yang ada ditangannya, karena mereka lumayan lama saling tatap. Bukankah sedikit kurang ajar kalau kau melihat lama seorang gadis yang sedang membawa sebuah beban tanpa menawarkan bantuan apapun padanya?

Adelia Husna hanya bisa mendengus kesal.

"Yah, pertolongan apa yang kuharap dari seorang berpakaian pasien?"

Adelia berjalan maju beberapa langkah lalu ia melihat sebuah buku tergeletak ditanah. Dia pun berjongkok ketanah setelah meletakkan kotaknya. Dia memungut buku yang terbuka dan tertelungkup di tanah itu. Dia mengingat letak buku ini sepertinya tempat yang sama anak laki-laki itu tadi berdiri.

"Sepertinya tadi dia tidak sengaja menjatuhkan buku ini," kata Adel dia lalu membalik posisi buku itu dari tertelungkup menghadap kearah nya.

Adel mengerutkan keningnya, melihat isi buku itu kosong, putih bersih seperti tak pernah tersentuh setetes pun tinta. Adel lalu dengan cepat membalik halaman lain, tapi semuanya sama. Tidak ada apa-apa disana, selain garis-garis halus kertas yang permukaannya tidak mulus.

Adel lalu teringat ketika tadi saat baru memasuki halaman rumah sakit dia sempat melihat anak laki-laki itu masih duduk dikursi dan ia jelas melihat anak laki-laki itu membaca bukan menulis.

"Wah, tidak kusangka, kukira dengan wajah tampannya dia adalah orang waras yang terpaksa kesini. Tapi melihat ini, aku benar-benar yakin mengapa dia cocok memakai pakaian rumah sakit ini," Adel berkata sambil melihat bangunan rumah sakit yang ada didepannya.
Lalu tiba-tiba anak laki-laki yang dilihatnya tadi keluar dan berjalan cepat kearah nya.

"Hei apa ini milik....

Belum sempat Adel selesai bertanya, anak laki-laki itu langsung merebut buku yang dia acungkan tanpa berkata apa-apa. Setelah itu laki-laki langsung berbalik dan pergi dengan cepat.

"Apa-apaan itu?" Adel tidak bisa berkata-kata.

"Aaah, apa dia delusi baru lagi? Mengapa sangat mirip dengan nya?"

Noel mengacak-acak bagian belakang rambutnya lalu masuk ke dalam rumah sakit.

 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo