Kamis, 08 Februari 2018

Noel

Dokter Rebecca menutup pintu mobilnya lalu berbalik menghadap sebuah rumah yang berukuran sedang namun bergaya Aristokrat. Dokter Rebecca berpikir, sudah berapa lama dia rutin berkunjung kesini untuk memberikan konseling pada seorang anak dari penulis favorit nya. Ini harusnya adalah suatu kebanggaan dan hal langka, ditengah kesibukannya menjadi psikiater dia bisa bertemu langsung dengan seorang penulis novel fiksi favoritnya. Tapi sayangnya ini malah jadi suatu ironi karena pertemuan mereka bertujuan untuk menangani kondisi psikis anak si penulis yang bermasalah. Masih segar di ingatan Dokter yang baru berumur 30 tahun itu bagaimana Alisa nama si penulis favoritnya datang padanya dengan kondisi mata sayu dan wajah kelelahan meminta bantuan perihal anaknya.

Noel Witson Alexander, adalah anak yang cerdas. Entah karena kondisi apa yang membuat anak itu malah menggunakan kemampuan daya imajinasinya untuk berdelusi. Rincian-Rincian tentang delusinya yang Dokter Rebecca baca diam-diam dalam sebuah buku yang ditulis anak itu, tidak bisa dipungkiri bahwa ceritanya sangat bagus dan sempurna. Seandainya saja tulisan itu tidak mengandung unsur fantasy, Dokter Rebecca mungkin akan mempercayainya. Sayangnya satu-satunya plot hole dalam tulisan itu adalah tidak adanya sesuatu yang sesuai dengan kenyataan dari kehidupan anak itu.

Noel 100% mengarang dengan apa yang dilihatnya disuatu tempat yang setelah dilihat kesana tidak apa-apa disana.

Dokter Rebecca menghela nafas berat. Memikirkan betapa sayang bakat Noel yang diturunkan dari Ibunya malah menjadi petaka pada hidupnya.

Tapi untung lah sekarang anak itu mau sedikit terbuka padanya, setelah masa konseling satu tahun yang tidak maju-maju. Lalu ketika dia berpikir anak itu sudah mulai memilik kesadaran atas delusinya, tiba-tiba saja kemarin Noel menelepon nya untuk pertama kali dan mematahkan semangat nya atas kegembiraan yang dilakukan Noel saat itu. Dokter Rebecca tidak menyangka anak itu malah mengatakan bahwa dia memiliki gangguan lain, selain berdelusi. Namun Dokter Rebecca tetap bersyukur, setidaknya Noel sudah menerima dirinya sebagai Dokternya dan menceritakan semua itu padanya.

Dokter Rebecca sudah sampai di pintu depan. Dia lalu mengetuk pintu rumah itu, tidak beberapa lama pintu terbuka dan seorang wanita yang tampak tidak terlalu tua dengannya berdiri didepan pintu. Alisa, Ibunya Noel yang sebenarnya memiliki wajah awet muda,  namun sekarang dia terlihat lusuh walaupun dibalut pakaian rapi. matanya  memiliki bulatan hitam persis bagaimana mereka awal bertemu dulu. Sebenarnya apa yang dilakukan anak itu sampai Ibunya begini?

"Hallo Madam! Bagaimana kabar Anda?" Sapa Dokter Rebecca.

Alisa tersenyum.

"Baik Dokter." Sahutnya.

"Silakan masuk Dokter, Maafkan saya yang selalu membuat anda datang kemari saat akhir pekan." Kata Alisa mempersilahkan Dokter Rebecca masuk.

"Tidak apa-apa Madam, saya senang ke daerah yang asri ini. Ini seperti saya sedang liburan ke Villa." Sahut Dokter Rebecca tersenyum sambil masuk ke dalam rumah.

"Syukurlah bila Anda merasa begitu, sini biar saya gantungkan mantel anda."

"Terima kasih, Madam." Dokter Rebecca lalu menyerahkan mantelnya yang baru dia lepas.

"Tidak terasa ini musim hujan lagi." Kata Dokter Rebecca lalu melihat ke arah sebuah pintu kamar yang berada dilantai dua.

"Iya, Dokter." Alisa juga menimpali sambil ikut memandangi pintu kamar yang dilihat Dokter itu.

👤👤👤

Alisa dan Dokter Rebecca duduk berhadapan di sofa ruang tamu.

"Bagaimana keadaan keponakan Anda?" tanya Alisa, dari wajahnya terlihat dia khawatir bercampur rasa bersalah.

"Dia baik-baik saja, Madam. Tenang saja, dia gadis yang kuat, Dia tidak akan runtuh dengan hal seperti itu." Kata Dokter Rebecca menenangkan.

"Syukurlah." Alisa tersenyum lega.

"Lalu keadaan Noel bagaimana, Madam?"

Alisa menunduk terdiam ketika mendengar pertanyaan Dokte Rebecca.

"Semenjak kejadian itu, dia jarang keluar kamar Dokter. Bahkan akhir-akhir ini dia hampir tidak keluar kamar. Saat bertemu saya, dia seperti ketakutan atau seperti marah pada saya. Dia akan langsung berpaling dan berlari kekamarnya begitu melihat saya." Setelah selesai menjawab Alisa menitikkan air mata.

"Bagaimana ini Dokter? Apa lagi yang terjadi padanya?" Alisa mulai terisak.

Dokter Rebecca memajukan tubuhnya untuk mengelus-elus lengan Alisa.

"Anda harus sabar madam."

Beberapa saat kemudian Alisa mulai tenang. Dia berhasil menghentikan isaknya dan air matanya. Kepalanya kembali ditegakkan.

Dokter Rebecca menatap wajah Alisa dengan seksama.

"Madam. Sebenarnya kemarin Noel menelepon ku dan menceritakan perkembangannya sekarang."

Alisa terkejut mendengarnya.

"Benarkah? Noel menelepon anda?" Tampak gurat kegembiraan ada diwajah Alisa.

"Ia Madam, saya sangat senang begitu dia mengenalkan diri. Tapi menelepon karena ada masalah."

"Masalah?"

"Ia Madam. Sebenarnya dia kemarin menelepon untuk meminta sesuatu."

"Apa itu?" Alisa tampak penasaran.

Dokter Rebecca memasang wajah hati-hati. Dengan tarikan nafas ia pun menjawab.

"Dia ingin dimasukkan dalam rumah sakit jiwa, Madam."

Alisa refleks menutup mulutnya. Air mata kembali jatuh tanpa dia tahan. Perasaannya sekarang kaget bercampur sedih. Noel anaknya,,, tidak mungkin dia bisa memasukkan nya kesana.

"Anda jangan bercanda Dokter!" Alisa terlihat marah.

"Aku tidak bercanda, Madam. Noel sendiri yang meminta itu dan setelah mendengar masalah nya saya pun setuju dengan itu. Saya tahu ini berat untuk Anda madam. Tapi ini demi kebaikan Noel. Anda bisa terluka nantinya kalau memaksakan Noel tetap disini!" Dokter Rebecca mencoba meyakinkan.

"Kenapa aku bisa terluka saat bersama dengan anakku!??" Bentak Alisa.

"Madam! Noel sekarang sangat kesulitan membedakan antara nyata dan tidak. Dia sering kali meragukan kehadiran anda! Anda ingat apa yang terjadi pada keponakan saya saat itu? Noel sebenarnya memukulnya sampai terjatuh dari perahu karena Noel tidak yakin bahwa dia nyata madam! Madam dia juga bisa melakukan hal yang sama padamu kalau dia tidak sanggup menahan dirinya!" Kata Dokter Rebecca sengit. Dia menarik nafas ketika menyadari dirinya mulai terbawa emosi.

Sedangkan Alisa yang mendegar itu menjadi syok. Bola matanya bergerak kesana kemari karena dia tidak dapat fokus.

"Tidak mungkin Noel seperti itu." Alisa mencoba menyangkal.

"Madam, saya harap anda menerima nya. Kita harus cepat mengobati Noel kalau tidak ingin membuatnya seperti itu seumur hidupnya." Dokter Rebecca mencoba membujuk.

"Tidak mungkin aku bisa memasukkan nya kesana Dokter!" Alisa berkata sengit.

"Ma, Bolehkah aku bicara pada mu sebentar?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari atas.

Alisa dan Dokter Rebecca pun sama-sama menengok ke arah suara.

Terlihat seorang remaja laki-laki sedang berdiri didepan pagar koridor kamarnya.

"Noel."

👫👫👫👫

Alisa dan Noel sudah berada dalam ruang perpustakaan. Ini adalah ruang favorit mereka berdua. Saat baru pindah rumah, Noel kecil yang baru berumur 7 tahun masih belum terbiasa dengan seluk-beluk rumah apalagi luar rumah selalu mengikuti Alisa kemana saja, termasuk perpustakaan yang sebenarnya jika anak kecil lain melihat itu adalah ruangan yang sangat membosankan karena hanya ada buku tebal tanpa gambar yang menarik perhatian anak-anak. Tapi, Noel kecil tidak begitu. Dia terlihat selalu riang jika Alisa berjalan ke arah sana. Dia akan ikut masuk bersamaan dengan Alisa masuk dan akan keluar ketika Alisa juga keluar, tak peduli selama apa itu.

Di dalam perpustakaan, Noel kecil akan mengambil buku secara random, dan membacanya sampai habis. Tak peduli seberapa tebal atau susahnya buku itu di pahami dia tetap akan membacanya, hanya saja setiap kali dia tidak mengerti, dia akan mendatangi Ibunya dan menyerbu dengan banyak pertanyaan. Dia tidak akan meninggalkan Ibunya sampai dia paham apa yang dimaksud buku itu. Alisa sering dibuat kewalahan olehnya, tapi tetap saja bagi Alisa itu sangat manis.

Namun kebiasaan bertanya itu lambat laun menghilang dari diri Noel. Semakin bertambah umurnya, semakin banyak dia diam sampai ia tidak pernah lagi berbicara atau sekedar berkomentar dengan buku yang dia baca. Dia bahkan masuk ke perpustakaan itu hanya untuk mengambil buku yang ingin ia baca lalu kembali kekamarnya. Alisa akhirnya kehilangan sosok Noel kecil dalam ruang perpustakaan.

Ketika mengingat hal itu, Alisa merasa menyesal membiarkan Noel kecil berada disana. Seberapapun cerdas anak itu, tetap saja yang dibutuhkan nya saat masih kecil bukanlah buku tebal yang untuk dibaca orang dewasa melainkan beberapa teman dan permainan. Kini anaknya tumbuh dengan tidak normal seperti itu bukan kesalahannya tapi kesalahan Alisa sendiri yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Noel. Anak itu dewasa terlalu cepat. Membuat nya kehilangan momen-momen penting bagi para remaja pada umumnya.

"Ma, benar yang dikatakan Dokter tadi. Aku harus pergi." Kata Noel memulai pembicaraan dengan kepala tertunduk.

Alisa memandangi kepala anaknya dengan sedih. Ini pertama kalinya dia mendengar suara anaknya setelah kejadian dua Minggu yang lalu. Alisa kembali meneteskan air mata tapi mencoba untuk tidak bersuara, dia tidak ingin Noel melihat dia menangis.

"Kau tidak perlu pergi sayang. Mama, akan mencarikan Dokter baru yang bisa merawatmu dirumah ."

"Aku tidak perlu Dokter baru, Ma. Tapi aku perlu jauh darimu..." Kata Noel lalu mengangkat kepala untuk menatap wajah Ibunya.

Alisa kaget mendengar perkataan Noel.

"Sa.. Sayang?"

"Ma. Aku lelah bersamamu. Aku sudah diambang batas. Aku takut aku akan melakukan sesuatu yang buruk padamu."

Setetes air mata jatuh dari sudut mata Noel.

Air mata Alisa juga sudah mulai deras berjatuhan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak, Sayang. Tidak mungkin kamu hal melakukan seperti itu pada Mama. Mama, percaya padau Sayang."

"Tapi Aku yang tidak percaya pada diriku sendiri, Ma..."

"Noel..."

"Ma.. Sudah dua minggu ini aku berhalusinasi tentang dirimu."

"Berulang-ulang saat aku bangun tidur, Aku melihat mu pergi dari ku."

"Kalau tidak kau kabur dengan koper besar, aku melihat mu bunuh diri dengan cara yang berbeda-beda tiap kalinya."

"Itu menyakiti ku, Ma. Kau menyakitiku walaupun kau tidak melakukan apa-apa, Ma."

"Aku sedih dengan hal itu. Aku jadi membenci berada bersama mu."

Noel menatap tajam pada Ibunya dengan ekspresi dingin.

"Terakhir kali, Aku melihatmu dijemput seorang pria untuk pergi dari sini, pria itu tampan dan bertubuh gagah, kau tampak senang melihat nya, Ma. Matamu menyiratkan betapa kau sudah lama merindukannya. Aku pun mengambil kesimpulan itu, Ayah yang walaupun sebelumnya sudah kau tegaskan dia sudah meninggal. Kau tak lagi membawa kopermu sendiri tapi Pria itu membawanya, kau hanya menggandeng tangannya saja dengan erat. Saat kau hampir melewati pintu rumah, aku berlari turun kebawah dan mengejarmu. Saat kau tahu aku berada dibelakang mu, kau berbalik kearahku dan menatapku dengan dingin. Senyuman manis yang tersungging dibibirmu ketika menatap pria itu hilang seketika ketika kau menatap ku. Ma, kau tahukan? aku sangat membenci ayah. Aku berharap orang itu benar-benar mati dan tidak kembali lagi merusak hatimu? Tapi saat itu kau malah berbalik lagi tanpa mengatakan apa-apa padaku dan terus berjalan keluar dan masuk mobil Pria itu dengan  bahagia."

"Perasaan ku sangat buruk saat itu."

"Noel.."

Alisa tampak kaget mendengarnya.

"Lalu setelah kau pergi, seperti akhir-akhir halusinasi lainnya, aku melihat mu datang dari arah lain, dan memanggilku "Sayang"."

"Jujur aku sangat senang mendengarnya, tapi saat aku berpaling melihat mu. Tiba-tiba saja dipikiran ku muncul pertanyaan, "Apa dia nyata?", " Benarkah ini Ibuku?", "Bagaimana kalau yang tadilah benar Ibuku?", "Bukankah delusiku selalu memunculkan orang-orang baik yang punyat hati malaikat?", "Bagaimana ini. Yang mana Ibuku?", "Yang ini mungkin saja palsu, Ibuku mungkin sudah lama pergi." "Bagaimana ini? Yang mana Ibuku?", "Haruskah aku membuktikannya?"."

"Tahukah, Ma apa yang terbesit saat itu dipikiran ku untuk membuktikan dirimu nyata?"

"Aku ingin membunuh mu. Aku ingin tahu saat aku menelepon polisi atau Dokter Rebecca apakah mereka akan mengatakan aku anak durhaka yang membunuh Ibunya atau orang gila yang main-main dengan laporan palsu."

Noel tersenyum.

"Ma. Aku bukan lagi anakmu. Aku seorang Monster, Ma. Monster."

Alisa tertegun. Dia tidak percaya apa yang telah ia dengar dari Noel.

"Noel... Noel..." Panggil Alisa dengan suara bergetar.

Lalu Noel tiba-tiba menangis.

"Aku bukan Noel anakmu lagi, Ma. Aku aib, Ma."

"Aku bukan manusia.. aku monster... Aku monster..." Noel berbicara seperti meracau.

Alisa mendekat kearah Noel. Lalu memeluk kepala Noel.

"Ma. Aku menyayangimu. Aku menyayangimu, tapi aku tidak sanggup begini. Aku tidak bisa terus melawan keinginan untuk membunuhmu.. aku lelah Ma. Aku lelah.. aku ingin normal."

"Aku ingin hidup normal.. aku ingin kuliah Ma, Aku ingin punya banyak teman, geng, berpacaran."

"Aku ingin lulus dan bekerja, Ma. Aku juga ingin punya kekasih lalu menikahinya."

"Aku ingin jadi putramu yang normal, Ma."

Noel menangis sesenggukan.

Air mata Alisa pun juga ikut berjatuhan lebih banyak.

"Noel, kamu tetap putra Mama walau seperti ini." Ucapnya.

"Tapi aku tidak merasa begitu, Ma. Aku tidak punya kepercayaan diri untuk menjadi anakmu. Aku hanya aib bagimu."

"Kamu tidak boleh berbicara itu sayang."

"Ma.. Aku lelah sepert ini."

😔😔😔😢

Dokter Rebecca dan Alisa tengah menunggu Noel yang sedang berkemas diruang tamu tempat mereka tadi berbicara.

"Berapa kira-kira Noel bisa sembuh, Dok?" Tanya Alisa, suaranya datar dan matanya menatap kosong kearah pintu kamar Noel yang terbuka. Disana masih bisa dilihat dari bawah siluet Noel yang sibuk mengemas barang-barang nya kedalam tas.

"Aku tidak bisa memastikan lama atau sebentar nya. Aku tidak bisa memprediksi apa-apa. Itu tergantung bagaimana Noel nya, Madam." Jawab Dokter Rebecca yang juga memandangi Noel.

"Dia akan kembali sebelum aku meninggal kan?" Tanya Alisa lagi.

Dokter Rebecca berpaling cepat kearah Alisa.

"Madam! Anda tidak boleh berbicara seperti itu."

Alisa tersenyum.

"Ya benar, aku tidak boleh berbicara seperti ini. Noel akan normal dengan cepat bahkan sebelum musim berganti."

Noel keluar dari kamarnya sambil menutup pintu. Dia lalu menuruni tangga dan menghampiri Ibu dan Dokter Rebecca.

Dokter Rebecca kaget melihat tas yang ditenteng.

"Hanya itu yang kau bawa?"

"Hm."

"Kau tidak membawa buku-buku mu? Kau mungkin akan merasa bosan disana."

"Tidak, Dokter. Aku tidak bisa Dokter. Setiap kali aku selesai membaca buku, aku akan berdelusi, Dokter." Jawab Noel.

Dokter Rebecca kaget mendengar jawaban Noel yang cukup panjang dan bahkan menjelaskan sedikit masalah delusinya.

"Jadi maksud mu, saat kau membaca sebuah buku kau akan melihat tokoh atau kejadian yang mirip dengan dalam buku itu atau berkaitan dalam buku itu?" Dokter Rebecca bertanya untuk memastikan.

Noel mengangguk. Lalu berpaling menatap Ibunya.

"Ma, jangan pernah ke rumah sakit tempat aku dirawat ya.!"

Alisa heran mendengarnya.

"Kenapa sayang?"

"Itu berbahaya, aku juga bisa saja menganggap mu delusi. Aku akan memberikan mu surat untuk memberi tahu keadaan ku. Oke?"

Alisa tampak tidak puas. Tapi dia mengangguk.

"Baiklah, tapi kirimi Mama surat satu seminggu sekali tiap hari Minggu. Oke?"

"Oke, Ma." Noel menyanggupi.

_______

Dokter Rebecca dan Noel berjalan beriringan menuju mobil.

"Dokter, sering-sering lah berkunjung kesini walau aku tak ada."

"Mama pasti syok, dia membutuhkan mu."

Dokter Rebecca tersenyum.

"Aku mengerti anak manis."

Dokter Rebecca mengelus kepala Noel.

Mereka sudah sampai disamping mobil.

"Dokter, aku baru ingat." Ucap Noel tiba-tiba.

Dokter Rebecca yang ingin membuka pintu mobilnya pun tidak jadi melakukan nya.

"Apa?"

"Aku baru ingat kalau delusia tentang Delia dan hujan, tidak berdasarkan buku yang ku baca.."

 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo